Penutupan Expo SMK Jatim 2026, Khofifah Tegaskan Komitmen Cetak Lulusan Siap Kerja dan Siap Usaha
Surabaya –Koran Merah Putih Rangkaian kegiatan Expo & Expose SMK Jawa Timur 2026 resmi ditutup dengan penuh optimisme di Exhibition Hall Grand City Convention Hall, Kota Surabaya, Sabtu sore (14/02/2026). Ajang tahunan yang mempertemukan ratusan SMK dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat pendidikan vokasi yang adaptif, relevan, serta berdaya saing global.
Acara penutupan dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan bahwa SMK memiliki peran vital dalam mencetak generasi unggul yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
“Kita ingin memastikan bahwa anak-anak SMK Jawa Timur tidak hanya lulus, tetapi langsung siap kerja, siap berwirausaha, bahkan siap menciptakan lapangan pekerjaan. SMK harus menjadi solusi atas kebutuhan industri dan tantangan masa depan,” tegasnya di hadapan peserta expo, kepala sekolah, serta perwakilan industri.
Menurut Khofifah, penguatan pendidikan vokasi tidak dapat berjalan sendiri tanpa kolaborasi yang solid. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, sekolah, dan industri agar kurikulum, praktik pembelajaran, hingga sertifikasi kompetensi benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil dunia kerja.
“Kolaborasi adalah kunci. Tanpa kemitraan yang kuat antara pemerintah, sekolah, dan industri, kita tidak akan mampu menghadirkan pendidikan yang relevan. Penandatanganan MoU hari ini harus dimaknai sebagai komitmen bersama untuk membuka lebih banyak peluang bagi lulusan SMK,” tambahnya.
Ukuran Keberhasilan: Employability
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Arie Wibowo Khurniawan, menyampaikan bahwa Expo SMK Jatim 2026 merupakan panggung pembuktian kualitas pendidikan vokasi Jawa Timur di tingkat nasional.
Ia menegaskan bahwa indikator utama keberhasilan SMK adalah employability atau tingkat keterterimaan lulusan di dunia kerja dan industri.
“Ukuran keberhasilan pendidikan vokasi adalah employability. Ending dari seluruh proses pendidikan vokatif adalah seberapa kuat lulusan kita diterima dan berkontribusi di dunia kerja serta dunia industri,” ujarnya.
Arie juga mengapresiasi perkembangan teaching factory dan teaching industry di berbagai SMK Jawa Timur yang dinilai sangat kompetitif. Berdasarkan hasil kunjungan langsung ke sejumlah sekolah, kualitas praktik dan produksi siswa SMK disebut tidak kalah dengan perguruan tinggi negeri strategis.
Sebagai bentuk dukungan konkret, pemerintah pusat pada tahun 2025 telah mengalokasikan bantuan kepada 472 SMK di Jawa Timur dengan total anggaran mencapai Rp430 miliar. Dana tersebut digunakan untuk program revitalisasi sarana-prasarana, digitalisasi pembelajaran, serta penguatan kemitraan dengan industri.
Menuju Role Model Nasional
Khofifah optimistis bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar menjadi role model nasional dalam pendidikan vokasi. Dengan jumlah SMK dan peserta didik yang besar, serta dukungan jejaring industri yang luas, provinsi ini dinilai memiliki fondasi kuat untuk menjadi rujukan nasional.
“Jawa Timur harus menjadi role model nasional. Kita punya SDM, jejaring industri, dan semangat inovasi. Tinggal bagaimana kita menjaga kualitas, konsistensi, dan keberlanjutannya,” tegasnya.
Antusiasme ribuan pengunjung selama pelaksanaan expo menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap pendidikan vokasi. Beragam inovasi, produk kreatif, teknologi terapan, hingga hasil kolaborasi industri yang dipamerkan menjadi bukti bahwa SMK Jawa Timur siap melangkah lebih maju.
Penutupan Expo & Expose SMK Jawa Timur 2026 tidak dimaknai sebagai akhir, melainkan awal dari penguatan akses, jejaring, dan peluang yang lebih luas bagi siswa SMK—membuka jalan menuju masa depan yang terhubung langsung dengan industri, teknologi, dan kebutuhan riil dunia kerja di tingkat nasional maupun global.(DN)

