BBM Bocor dari Hulu: Dugaan Pengurangan Muatan Tangki Pertamina Terjadi di sekitar area Depo

Img 20260202 wa0002

Surabaya || Koran Merah Putih –

Aroma busuk kejahatan kembali menyengat dari jantung distribusi energi nasional. Di balik gemerlap lampu malam kawasan Tanjung Perak, sebuah praktik kotor yang dikenal luas di lapangan sebagai “kencingan” berlangsung terang-terangan, terjadwal, dan nyaris tanpa rasa takut.

Oknum sopir tangki BBM milik Pertamina diduga secara sistematis mengurangi isi muatan BBM sebelum proses pembongkaran resmi dilakukan, sebuah pengkhianatan telanjang terhadap negara dan rakyat.

Berdasarkan pantauan awak media, aksi pengurasan ilegal ini bukan insiden sesaat. Ia berjalan rapi, terkoordinasi, dan berulang, dengan rentang waktu malam hari pukul 19.00 hingga 22.00 WIB.

Tak berhenti di situ, saat fajar menyingsing pun kejahatan kembali menyala, sekitar pukul 04.00 hingga 06.00 WIB, seolah waktu dibagi khusus untuk menjarah hak publik.

Yang membuat bulu kuduk berdiri, aksi ini dilakukan di sekitar area vital, tepatnya di kawasan Tanjung Perak, bersebelahan dengan Depo Pertamina Tanjung Perak. Lokasi strategis yang semestinya steril justru berubah menjadi arena penggerogotan energi nasional.

Modusnya keji namun sederhana, BBM disedot dan dipindahkan ke jerigen berkapasitas 30–35 liter. Satu jerigen demi satu jerigen dikumpulkan, disusun, lalu diangkut menuju titik penimbunan yang telah ditentukan oleh pengepul. Ini bukan kerja individu serkompromi, ini kerja jaringan.

Sopir tidak beraksi sendirian; sejumlah orang ikut membantu, mengawal, mengatur waktu, dan memastikan proses “kencingan” berjalan mulus tanpa gangguan. Yang paling mengerikan: tak ada rasa takut.

Tak tampak bayang-bayang gentar terhadap Aparat Penegak Hukum. Praktik ini berlangsung seolah ada payung tak kasat mata, menimbulkan pertanyaan besar: siapa yang melindungi?, siapa yang membiarkan?,
Kerugian negara akibat praktik ini tak terhitung.

Setiap liter BBM yang dicuri adalah uang rakyat yang dirampas, subsidi yang disunat, dan hak publik yang diinjak-injak. Dampaknya merembet ke mana-mana: stok berkurang, harga tertekan, distribusi terganggu, dan kepercayaan publik runtuh. Lebih jauh, praktik ini menciptakan ekosistem kriminal yang merusak sendi-sendi tata kelola energi nasional.

Ironisnya, semua itu terjadi di dekat pusat distribusi, tempat yang seharusnya paling diawasi. Jika dekat depo saja bisa dijarah, lalu bagaimana dengan wilayah lain yang jauh dari sorotan ?, Publik kini menunggu langkah tegas dan transparan.

Bukan sekadar klarifikasi, bukan pula razia sesaat. Usut tuntas jaringan, bongkar rantai pengepul, telusuri alur distribusi, dan seret semua yang terlibat, tanpa pandang bulu. Jika tidak, praktik “kencingan” ini akan terus menjelma monster rakus yang menghisap energi negeri, malam demi malam, liter demi liter.

Negara tak boleh kalah. BBM adalah urat nadi bangsa. Ketika urat itu disayat oleh oknum, keadilan harus segera menghantam balik, keras, cepat, dan tanpa kompromi.

Leave a Reply