Jalan Mulus Disulap Jadi Jebakan Maut, Proyek Pipa Gas PGN Tuai Kemarahan Warga

Img 20260130 wa0028

Gresik // Koran Merah Putih —
Jalan desa yang sebelumnya mulus dan layak dilalui warga kini berubah menjadi ladang jebakan maut akibat proyek galian pipa milik Perusahaan Gas Negara (PGN). Proyek yang semestinya membawa manfaat justru meninggalkan kerusakan brutal, amblesan mematikan, dan potensi korban jiwa akibat pengerjaan yang diduga asal jadi, serampangan, dan jauh dari standar keselamatan.

Pantauan di lapangan menunjukkan, bekas galian pipa gas dibiarkan begitu saja, tanpa pemadatan yang layak, tanpa urukan standar teknis, dan tanpa upaya pengembalian kondisi jalan seperti semula.

Tanah penutup tampak acak-adut, hanya ditimbun tanah biasa tanpa pengerasan, sehingga ambles setiap kali dilintasi kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil. Bahkan, saat dua mobil berpapasan, tanah di titik bekas galian langsung ambruk ke bawah, seolah jalan itu hanyalah lapisan tipis penutup lubang raksasa.

Warga Desa Domas pun akhirnya tak bisa lagi diam. AG, salah satu warga yang rumahnya tepat berada di sepanjang jalur proyek, meluapkan kemarahan dan kekecewaannya.

“Kalau menurut saya, proyek Pipa Gas Nasional ini nutup galian sepanjang jalan itu sak penak e dewe. Mestinya ditambal pakai urukan yang bener, dipadatkan, dikembalikan seperti semula. Ini cuma ditutup tanah biasa. Ini bukan kerjaan, ini sembrono!” tegas AG dengan nada geram.

Menurut keterangan warga, galian proyek mencapai kedalaman puluhan meter dan membentang panjang di depan rumah masyarakat. Namun setelah pipa dipasang, tidak ada tanggung jawab nyata untuk memulihkan kondisi jalan. Penimbunan dilakukan sekadar formalitas, tanpa memperhatikan keselamatan warga yang setiap hari melintas.

Keluhan serupa disampaikan SP, warga lain yang menyebut kondisi jalan pasca-pengurukan sangat berbahaya.

“Setelah ditutup, banyak pengendara motor hampir terpeleset. Kalau ada mobil berpapasan, tanah itu pasti ambles. Urukannya nggak sesuai mekanisme, nggak dipedel. Ini rawan banget. Kalau ada pengendara ngebut, jatuh, bahkan meninggal, siapa yang tanggung jawab?” ujar SP dengan nada marah bercampur cemas.

Kondisi tersebut bukan sekadar mengganggu, melainkan mengancam nyawa. Jalan desa yang menjadi akses utama warga kini berubah menjadi perangkap kecelakaan, sementara pihak pelaksana proyek seolah lepas tangan.

Tim Media Cakranusantara yang turun langsung ke lokasi, termasuk jurnalis lapangan Bodeng, dikenal dengan rambut jambul merah, membenarkan seluruh keluhan warga. Secara kasat mata, tanah bekas galian memang tidak dikembalikan seperti semula, tidak rata, tidak rapi, dan ambles setiap kali diinjak atau dilalui kendaraan.

Fakta di lapangan ini memperkuat dugaan bahwa pekerjaan dilakukan tanpa standar teknis yang layak.
Upaya konfirmasi pun dilakukan. Saat dihubungi melalui sambungan WhatsApp, TPK proyek bernama Khafit menyatakan singkat bahwa pekerjaan belum selesai.

“Pekerjaan belum selesai, Mas. Nanti kita kerjakan lagi,” ujarnya terburu-buru sebelum menutup percakapan.

Namun, ketika awak media mempertanyakan besaran anggaran proyek PGN tersebut, anggaran yang seharusnya mencakup pengembalian kondisi jalan, tidak ada jawaban. Pesan WhatsApp yang dikirim diabaikan, menambah tanda tanya besar soal transparansi dan akuntabilitas proyek.

Konfirmasi juga dilakukan kepada Fairuz, pihak lapangan proyek. Namun jawaban yang diberikan justru menghindar dari substansi.

“Ngapunten, saya kurang tahu, Pak. Saya orang lapangan,” jawabnya singkat.
Jawaban-jawaban normatif ini semakin mempertebal kecurigaan publik, bahwa proyek bernilai besar ini dikerjakan tanpa pengawasan ketat, tanpa keterbukaan anggaran, dan tanpa kepedulian terhadap dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi, klarifikasi, maupun penjelasan terbuka dari pihak PGN maupun penanggung jawab proyek terkait kerusakan jalan, potensi bahaya, dan tanggung jawab pemulihan.

Warga Desa Domas kini hanya bisa berharap tidak ada korban jiwa sebelum pihak terkait benar-benar turun tangan dan memperbaiki kesalahan fatal ini.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka proyek yang mengatasnamakan pembangunan tersebut patut diduga telah berubah menjadi bentuk pembiaran yang kejam terhadap keselamatan rakyat kecil.

Leave a Reply