Lapas Banyuwangi Raih Panen Raya 3 Ton Semangka Non-Biji – Program Agribisnis Pemasyarakatan Dorong Ketahanan Pangan dan Kemandirian Warga Binaan

Img 20260116 wa0066

BanyuwangiKoran Merah Putih Kamis (15/1/2026)  Kompleks Sentra Agribisnis Ekonomi (SAE) Paswangi, Lapas Kelas IIA Banyuwangi, meriah dengan suasana kegembiraan dan semangat produktif ketika menjadi lokasi pusat kegiatan Panen Raya Serentak Ketahanan Pangan Pemasyarakatan yang digelar oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur. Acara yang menjadi bukti nyata kontribusi aktif lembaga pemasyarakatan dalam pembangunan nasional ini dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kadiyono, dengan kehadiran kehormatan dari jajaran Forkopimda Banyuwangi, para Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Jawa Timur, serta Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo yang datang untuk memberikan dukungan penuh.

Kegiatan yang diselenggarakan secara serentak dengan seluruh wilayah Indonesia ini dimulai dengan sesi Zoom Panen Raya Serentak yang dipimpin langsung oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan dari Lapas Kelas I Cirebon, yang berperan sebagai pusat koordinasi nasional untuk menggerakkan seluruh jaringan lembaga pemasyarakatan dalam mengoptimalkan potensi lahan guna memperkuat ketahanan pangan bangsa. Fokus utama dari gerakan kolaboratif ini adalah penguatan ketahanan pangan nasional, yang pada hari ini terwujud dengan hasil panen melimpah sebanyak 3 ton semangka non-biji berkualitas unggul. Produk panen yang segar dan bernilai gizi tinggi ini diperoleh dari lahan hibah seluas 21.559 meter persegi yang dikelola secara profesional dan terstruktur melalui kerja sama erat antara tim pembina ahli dengan warga binaan Lapas Banyuwangi – sebuah bukti bahwa ruang pemasyarakatan bukan hanya sebagai tempat pembinaan, tetapi juga mampu menjadi lokasi produksi pangan yang produktif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat luas.

Konsep pengelolaan lahan di SAE Paswangi dirancang secara komprehensif, tidak hanya terbatas pada pengembangan sektor hortikultura semata. Lahan produktif tersebut mengadopsi pendekatan pertanian terintegrasi yang mencakup berbagai sektor komoditas strategis, mulai dari tanaman pangan pokok seperti jagung dan kedelai, sayuran beragam jenis yang kaya akan gizi, hingga pengembangan sektor peternakan dengan memelihara hewan ternak seperti ayam ras, kambing lokal, dan sapi potong yang disesuaikan dengan kondisi lahan. Selain itu, juga dikembangkan sektor perikanan dengan budidaya ikan air tawar seperti nila dan lele di kolam yang telah disiapkan secara khusus dengan sistem pengelolaan yang baik. Model pengelolaan yang terpadu dan menyeluruh ini tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan produk pangan berkualitas tinggi, tetapi juga dirancang sebagai bagian integral dari program pembinaan kemandirian warga binaan yang berkelanjutan. Setiap tahap kegiatan, mulai dari persiapan lahan, penanaman, perawatan rutin, hingga proses panen dan pengelolaan pasca panen, dijadikan sebagai sarana pembelajaran keterampilan hidup praktis yang akan menjadi bekal berharga bagi mereka setelah menyelesaikan masa pidana dan kembali untuk berkontribusi dalam lingkungan masyarakat.

Dalam rangkaian acara yang penuh makna dan harapan tersebut, Kakanwil Kadiyono juga secara resmi meresmikan fasilitas Dapur Sehat yang telah dibangun dengan standar tinggi dan memenuhi syarat kesehatan di dalam kompleks Lapas Kelas IIA Banyuwangi. Fasilitas ini dirancang dengan tujuan utama untuk menjamin standar kualitas gizi yang seimbang dan kebersihan makanan yang optimal bagi seluruh warga binaan, sekaligus diharapkan menjadi model terbaik bagi seluruh UPT Pemasyarakatan di wilayah Jawa Timur dalam menerapkan sistem pengelolaan makanan yang sehat, higienis, dan sesuai dengan prinsip gizi seimbang yang direkomendasikan oleh ahli kesehatan. Program Dapur Sehat ini tidak hanya memberikan dampak positif langsung pada peningkatan kesehatan dan kondisi fisik warga binaan, tetapi juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia yang mengutamakan peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup rakyat Indonesia. Selain itu, program inovatif ini juga menjadi bagian penting dari implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026 yang berfokus pada transformasi menyeluruh sistem pemasyarakatan menjadi lebih humanis, produktif, dan dengan orientasi utama pada rehabilitasi pribadi yang menyeluruh serta reintegrasi sosial yang sukses bagi setiap warga binaan.

Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, yang turut menyaksikan langsung proses panen dan peresmian Dapur Sehat, menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap inisiatif yang dilakukan oleh Kanwil Ditjenpas Jatim. Menurutnya, kegiatan panen raya dan pengembangan lahan produktif di lingkungan pemasyarakatan merupakan langkah strategis dan visioner yang sejalan dengan perkembangan zaman dalam mewujudkan konsep pemasyarakatan yang produktif dan mandiri. Dalam konsep tersebut, warga binaan tidak hanya mendapatkan pembinaan dalam aspek hukum dan pendidikan moral semata, tetapi juga diberikan kesempatan yang berharga untuk mengembangkan keterampilan praktis yang dapat menjadi dasar kuat untuk menjalani kehidupan yang mandiri dan produktif setelah mereka keluar dari pemasyarakatan. Dengan demikian, mereka tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, tetapi juga dapat berkontribusi positif bagi kemajuan keluarga dan masyarakat luas.

Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, yang turut menghadiri acara tersebut dan menyaksikan langsung hasil panen yang melimpah, memberikan apresiasi yang tinggi atas upaya optimalisasi lahan hibah yang dilakukan oleh Lapas Kelas IIA Banyuwangi dengan dukungan penuh dari Kanwil Ditjenpas Jatim. Menurutnya, program yang dijalankan oleh lembaga pemasyarakatan ini memiliki dampak yang sangat luas dan positif bagi pembangunan daerah. Tidak hanya berkontribusi signifikan pada peningkatan ketahanan pangan di tingkat lokal bahkan nasional, tetapi juga mampu mendorong potensi ekonomi lokal dengan membuka peluang kerja sama yang erat dan saling menguntungkan dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar wilayah Lapas. Sinergi yang terbangun antara dunia pemasyarakatan dengan berbagai pihak di masyarakat luas diyakini akan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi perkembangan ekonomi daerah, sekaligus menciptakan hubungan yang erat serta mempererat tali silaturahmi yang hangat antara lembaga pemasyarakatan dengan lingkungan sekitarnya.

Melalui sinergi yang terus dibangun dan diperkuat oleh Kanwil Ditjenpas Jatim dengan berbagai stakeholder terkait – mulai dari pemerintah daerah, komunitas masyarakat, lembaga pendidikan, hingga dunia usaha – diharapkan seluruh UPT Pemasyarakatan di wilayah Jawa Timur dapat terus berkontribusi nyata dan signifikan dalam upaya menyiapkan warga binaan yang tidak hanya sehat secara fisik dan stabil secara mental, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang handal serta sikap hidup yang positif dan bertanggung jawab. Dengan demikian, mereka akan siap kembali memberikan manfaat bagi masyarakat luas saat mereka bebas nanti dan dapat berintegrasi dengan baik serta menjadi bagian yang produktif dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini menjadikan sistem pemasyarakatan bukan hanya sebagai lembaga yang menjalankan fungsi hukum, tetapi juga sebagai lembaga yang berperan aktif dan strategis dalam pembangunan berkelanjutan bangsa dan peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia.(DN)

Leave a Reply