Jaringan Mafia Lpg 3 Kg Di Sidoarjo Terkuak: Ribuan Tabung Melon Diduga Disulap Setiap Hari, Negara Dirugikan Besar

Img 20260128 wa0009

Jaringan Mafia Lpg 3 Kg Di Sidoarjo Terkuak: Ribuan Tabung Melon Diduga Disulap Setiap Hari, Negara Dirugikan Besar

Sidoarjo || Cakra Nusantara – Skandal distribusi LPG bersubsidi 3 kilogram kembali mencuat ke permukaan. Kali ini, jaringan yang diduga terorganisir rapi dan masif disebut-sebut beroperasi secara terang-terangan di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Screenshot 20260128 125150~2
Diduga rumah/ Gudang Suplyer LPG milik BLKY

Jaringan ini bukan sekadar permainan eceran kecil, melainkan mafia LPG yang diduga menggerogoti hak rakyat miskin dan merampok subsidi negara secara brutal.

Nama BLKY mencuat sebagai sosok sentral. Berdasarkan penelusuran awak media dan keterangan sejumlah sumber yang enggan disebutkan identitasnya, BLKY diduga kuat sebagai pemasok utama LPG melon 3 kg ke sejumlah “pemain” yang dikenal dengan sebutan dokter atau penyuntik, istilah lapangan bagi pelaku pemindahan isi gas subsidi ke tabung non-subsidi 12 kg.

Diduga Tak Sekadar Suplai, Tapi Penadah Hasil Suntikan, Yang membuat praktik ini semakin kejam dan sistematis, BLKY bukan hanya diduga sebagai pemasok tabung melon, namun juga berperan sebagai penerima sekaligus penadah hasil penyuntikan atau transfusi LPG dari 3 kg ke 12 kg.Artinya, rantai kejahatan ini tidak berhenti pada suplai, tetapi terhubung langsung dengan hasil akhir kejahatan.

Setiap tabung LPG melon disebut dijual BLKY kepada para penyuntik dengan harga Rp18.000 per tabung. Harga yang secara terang-terangan mengindikasikan penyimpangan distribusi, mengingat LPG 3 kg adalah barang bersubsidi yang peruntukannya jelas dan ketat.

Enam Rit Sehari, Ribuan Tabung Raib
Dalam satu hari, BLKY diduga mampu menghabiskan hingga enam rit pengiriman ke sejumlah pemain di berbagai titik Sidoarjo, Nama-nama seperti Ipung, Dony, dan lainnya diduga disebut sebagai bagian dari jaringan penerima pasokan.

Jika satu unit mobil pikap memuat sekitar 520 tabung LPG melon, maka dalam enam rit pengiriman, lebih dari 3.000 tabung LPG subsidi diduga raib dalam sehari. Angka ini bukan sekadar statistik—ini adalah potret penjarahan subsidi negara secara masif dan sistematis.

Bayangkan, dalam hitungan hari, puluhan ribu tabung gas yang seharusnya menjadi hak masyarakat miskin, justru berpindah tangan ke jaringan ilegal demi keuntungan segelintir orang.

D/O Diduga Diperjualbelikan Demi Pasokan, Hasil penelusuran awak media juga mengungkap fakta lain yang tak kalah mencengangkan. Seorang pemain bernama Riski disebut-sebut kerap membeli Delivery Order (D/O) dari pihak lain, demi memastikan pasokan LPG melon ke dirinya tetap lancar dan sesuai kebutuhan pelanggan.

Praktik ini mengindikasikan adanya perdagangan kuota dan manipulasi sistem distribusi resmi, yang seharusnya diawasi ketat oleh agen, pangkalan, hingga aparat terkait.

Saat dikonfirmasi awak media melalui sambungan telpon berbasis Aplikasi Whatsapp terkait kegiatannya dalam. Bidang penyuntikan LPG dirinya menjawab tidak, dari jawaban tersebut penelusuran dilakukan awak media ini dan didapatkan pengakuan dari sejumlah Narasumber yang enggan disebut namanya BLKY hanya melakukan pensuplaian LPG melon serta menerima hasil suntikan.

“BLKY ini hanya sebagai suplyer dan Penadah hasil Suntikan, dalam sehari bisa mencapai 6ritt/hari” Ucap narasumber yang tidak mau namanya dipublikasikan.

Pernyataan ini justru menimbulkan pertanyaan besar, Jika tidak menyuntik, mengapa menerima hasil suntikan?,
Jika hanya suplai, mengapa distribusinya jatuh ke tangan para penyuntik ?, Pengakuan tersebut dinilai banyak pihak sebagai pengakuan setengah hati yang justru memperkuat dugaan keterlibatan dalam jaringan mafia LPG.

Negara Dirugikan, Rakyat Dikorbankan
Praktik ini bukan sekadar pelanggaran administratif. Ini adalah kejahatan ekonomi, perampasan hak masyarakat kecil, serta bentuk pengkhianatan terhadap subsidi negara yang dibiayai dari uang rakyat.

Saat warga miskin harus antre panjang dan kesulitan mendapatkan LPG 3 kg, jaringan ini diduga justru berpesta keuntungan, menjadikan gas subsidi sebagai ladang bisnis ilegal tanpa rasa takut.

Tantangan Terbuka untuk Aparat Penegak Hukum, Kasus ini menjadi ujian nyata bagi aparat penegak hukum dan instansi pengawas. Apakah jaringan mafia LPG ini akan terus dibiarkan merajalela, ataukah hukum akan benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu?

Masyarakat kini menunggu langkah tegas. Siapa melindungi siapa? Siapa bermain di balik layar? Dan sampai kapan praktik kejam ini terus menghisap subsidi negara?

Awak media akan terus menelusuri dan mengungkap jaringan ini hingga ke akar-akarnya.

Leave a Reply