Aksi Wawali Surabaya di Kampus UNITOMO Picu Reaksi Keras, Arek Suroboyo Nilai Harga Diri Kota Tercederai
Surabaya –Koran Merah Putih Rabu (7/1) Kota Surabaya kembali diguncang polemik yang menyita perhatian publik luas. Sebuah peristiwa yang dinilai mencederai marwah pemerintahan daerah sekaligus melukai harga diri masyarakatnya kini menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Kejadian tersebut bahkan disebut-sebut sebagai salah satu catatan kelam dalam dinamika kehidupan bernegara dan pemerintahan yang sah secara hukum di Kota Pahlawan, kota yang selama ini dikenal dengan karakter berani, tegas, dan pantang tunduk.

Peristiwa itu terjadi pada Senin, 6 Januari 2025, bertempat di Auditorium Kampus Universitas Dr. Soetomo (UNITOMO). Dalam forum tersebut, Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, secara resmi menandatangani Surat Permohonan Maaf atas tindakan yang dinilai telah merugikan Ormas MADAS. Penandatanganan surat tersebut dilakukan secara terbuka dan disaksikan langsung oleh Rektor UNITOMO yang disebut berperan sebagai mediator dalam pertemuan itu.
Langkah Armuji tersebut sontak memicu gelombang reaksi dari berbagai elemen masyarakat Surabaya. Banyak pihak menilai penandatanganan surat permohonan maaf di lingkungan kampus sebagai sebuah peristiwa yang tidak lazim, bahkan dianggap sebagai pertunjukan besar yang mencederai wibawa pemerintahan daerah. Situasi ini semakin memanas karena peristiwa tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah kelompok arek Suroboyo WANI menggelar konferensi pers, yang membahas dinamika emosional masyarakat pasca pelaporan Wakil Wali Kota Surabaya dan sejumlah warga Surabaya ke Polda Jawa Timur oleh Ormas MADAS.
Kritik keras pun bermunculan dari berbagai tokoh masyarakat. Heru MAKI, tokoh masyarakat Surabaya yang juga menjabat sebagai Ketua LSM MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, secara terbuka menyampaikan kekecewaan mendalam. Ia menegaskan bahwa penandatanganan surat permohonan maaf tersebut tidak bisa dipandang sebagai persoalan administratif atau etika personal semata, melainkan telah menyentuh ranah paling sensitif bagi warga Surabaya, yakni harga diri dan kehormatan arek Suroboyo.
“Ini bukan sekadar urusan surat-menyurat atau persoalan individu. Ini menyangkut harga diri Surabaya, kehormatan pemimpinnya, serta kebanggaan arek Suroboyo dalam menjaga kota ini. Kejadian ini sangat memalukan dan mencoreng nama Surabaya sebagai Kota Pahlawan,” tegas Heru MAKI.
Kecaman serupa juga disampaikan oleh Drg David, salah satu tokoh masyarakat Surabaya. Dengan nada keras, ia menilai tindakan Wakil Wali Kota Surabaya sebagai langkah yang tidak bijak dan mencederai perasaan kolektif warga Surabaya yang selama ini dikenal dengan semboyan keberanian, WANI.
“Sebagai pejabat publik, sikap seperti ini mencerminkan ketidakcerdasan dalam mengambil keputusan. Ini bukan luka kecil, tetapi luka yang dalam bagi harga diri arek Suroboyo,” ujar Drg David.
Heru MAKI menambahkan bahwa pasca peristiwa tersebut, Surabaya berpotensi memasuki fase dinamika sosial yang lebih keras. Menurutnya, reaksi masyarakat yang muncul merupakan bentuk ekspresi alamiah arek Suroboyo dalam menjaga marwah kota, sekaligus menolak segala bentuk premanisme dan narasi pengkotakan masyarakat berdasarkan identitas kelompok atau suku tertentu.
Sebagai bentuk konsolidasi sikap dan perlawanan moral, sejumlah tokoh masyarakat Surabaya sepakat untuk menggelar Apel Siaga Arek Suroboyo WANI. Apel ini direncanakan sebagai simbol sikap tegas warga Surabaya terhadap praktik-praktik yang dinilai merendahkan kehormatan kota dan pemimpin daerah yang sah.
“Suroboyo WANI akan menjadi narasi utama dalam apel siaga akbar yang akan digelar di halaman depan Balai Kota Surabaya, rumah rakyat arek Suroboyo. Kami pastikan ribuan massa akan hadir dan bergerak bersama,” tegas Heru MAKI.
Tidak hanya berhenti pada apel siaga, Heru MAKI bersama Drg David, Mas Purnama, dan Mas Ruddy Gaol selaku penggerak aksi juga berencana mendatangi Kampus UNITOMO. Mereka berniat meminta klarifikasi secara langsung kepada Rektor UNITOMO terkait konsep, desain, dan tujuan pertemuan yang berujung pada penandatanganan surat permohonan maaf Wakil Wali Kota Surabaya tersebut.
Heru MAKI menegaskan bahwa pihak rektorat UNITOMO tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab moral dan institusional. Menurutnya, keterlibatan Rektor UNITOMO sebagai saksi sekaligus mediator menjadikan pihak kampus memiliki peran penting dalam lahirnya peristiwa yang kini memicu gejolak sosial dan politik di Surabaya.
“Rektor UNITOMO harus bertanggung jawab. Dengan sadar menjadi saksi penandatanganan surat permohonan maaf oleh Wakil Wali Kota Surabaya, maka konsekuensi moral dan sosialnya tidak bisa dihindari,” tandas Heru MAKI.
Menutup pernyataannya, Heru MAKI menyampaikan peringatan keras bahwa pasca pers rilis arek Suroboyo WANI dan penandatanganan surat permohonan maaf di Kampus UNITOMO, kondisi Surabaya dipastikan tidak akan berjalan normal seperti sebelumnya.
“Suroboyo sementara ini tidak akan baik-baik saja. Catat itu,” pungkasnya.(Red)

