Proyek Renovasi SDN Wonoayu 2 Jadi Sorotan Paling Mencekam: Keselamatan Diabaikan, Kualitas Dipertanyakan, dan Transparansi “Dihilangkan” dari Papan Proyek
Proyek Renovasi SDN Wonoayu 2 Jadi Sorotan Paling Mencekam: Keselamatan Diabaikan, Kualitas Dipertanyakan, dan Transparansi “Dihilangkan” dari Papan Proyek
Sidoarjo — Renovasi SDN Wonoayu 2 yang seharusnya menjadi proyek perbaikan fasilitas pendidikan justru berubah menjadi pemandangan paling memalukan di mata publik. Sejumlah temuan di lapangan menciptakan pertanyaan besar tentang komitmen terhadap keselamatan, kualitas bangunan, hingga transparansi anggaran publik.
Proyek yang awalnya diharapkan memberi rasa aman bagi para siswa, kini justru menimbulkan kecemasan. Dari pekerja yang dibiarkan bekerja tanpa alat keselamatan, adukan semen yang diduga tidak sesuai takaran, hingga papan proyek yang tidak memuat nilai anggaran—semuanya memperkuat dugaan bahwa proyek ini jauh dari standar ideal.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana yang lebih mirip proyek darurat daripada proyek pendidikan. Para pekerja terlihat bergerak cepat tanpa menggunakan helm keselamatan, sepatu safety, sarung tangan, atau rompi kerja. Kondisi ini memperlihatkan betapa longgarnya pengawasan terhadap keselamatan kerja.
Salah satu warga yang berhasil ditemui oleh awak media mengatakan:
> “Saya heran, kok pekerja dibiarkan bekerja seperti ini? Ini bukan proyek main-main, ini sekolah. Kalau ada yang kecelakaan, siapa yang bertanggung jawab? Jangan sampai menunggu korban dulu baru sibuk cari aturan.”
Tidak adanya APD menimbulkan kekhawatiran tidak hanya pada keselamatan pekerja, tetapi juga pada keselamatan siswa yang kerap melintas di sekitar lokasi proyek.
Selain masalah keselamatan, warga juga menyoroti kualitas pekerjaan yang tampak meragukan sejak awal. Adukan semen tampak terlalu encer, material tidak dirapikan, dan beberapa bagian bangunan terlihat dikerjakan terburu-buru.
Seorang pemantau pembangunan, dan juga pemerhati infrastruktur pendidikan yang secara kebetulan berada diwarung kopi mengomentari kondisi tersebut:
> “Kalau dari kasat mata saja tampak tidak sesuai standar, bagaimana nanti ketika bangunan sudah digunakan? Kita bicara tentang ratusan siswa yang setiap hari akan berada di dalam gedung tersebut. Kualitas seperti ini adalah bom waktu.”
Rudi menambahkan bahwa proyek pendidikan tidak boleh dikerjakan dengan pola “asal jadi”, karena risiko yang muncul jauh lebih besar dibanding proyek umum lainnya.
Kritik semakin meluas ketika warga memperhatikan bahwa papan informasi proyek tidak mencantumkan nilai anggaran. Kondisi ini bertentangan dengan ketentuan keterbukaan informasi, yang mewajibkan penyelenggara proyek untuk menampilkan rincian kegiatan, termasuk total dana yang digunakan.
Menurut beberapa penggiat keterbukaan informasi, hal ini menciptakan preseden buruk:
> “Ketika nilai anggaran tidak ditampilkan, publik kehilangan hak untuk mengawasi penggunaan uang negara. Informasi anggaran bukan hiasan di papan proyek, itu kewajiban hukum. Ketidakjelasan seperti ini memicu dugaan-dugaan liar yang sebenarnya bisa dicegah jika transparansi dijalankan sejak awal.”
Bagi sebagian warga, papan proyek tanpa nominal anggaran dianggap sebagai tanda bahwa proyek ini tidak ingin diawasi secara penuh.
Kemarahan warga semakin besar karena proyek ini menyangkut keselamatan anak-anak. Banyak yang menilai bahwa proyek renovasi sekolah harusnya menjadi prioritas, bukan sekadar formalitas.
Salah seorang wali murid, yang mewanti wanti Redaksi untuk menyebut namanya , menegaskan:
> “Kami tidak butuh bangunan baru kalau kualitasnya abal-abal. Yang kami butuhkan adalah jaminan bahwa anak-anak kami aman. Jangan main-main dengan fasilitas pendidikan.”
Beberapa warga bahkan menyebut proyek ini terkesan tidak diawasi dengan benar sejak awal.
Masyarakat kini menuntut langkah tegas dari instansi terkait, mulai dari Audit kualitas pekerjaan, Pemeriksaan prosedur keselamatan, Verifikasi ulang material yang digunakan, Penegasan mengenai anggaran proyek, Hingga pemberian sanksi jika ditemukan pelanggaran.
Para pengamat juga menilai bahwa proyek pendidikan seperti ini harus berada di bawah pengawasan ketat, karena menyangkut generasi masa depan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pelaksana proyek maupun instansi berwenang.
Keheningan ini justru membuat publik semakin curiga bahwa ada sesuatu yang belum ingin disampaikan kepada masyarakat.
Tanpa klarifikasi, proyek renovasi SDN Wonoayu 2 akan terus menjadi sorotan, dan masyarakat berhak menuntut jawaban yang jelas dan transparan.

